Om Swastyastu,

Kepada masyarakat Desa Kusamba sekalian yang saya muliakan. Pada kesempatan yang berbahagia ini, kiranya tiada kata – kata yang patut untuk kita ucapkan terlebih dahulu melainkan puji syukur yang sedalam – dalamnya, atas rahmat dan karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa sehingga pembuatan Website Desa Kusamba dapat terlaksana dengan baik.

Kami sebagai Perbekel Desa Kusamba di sini tentu merasa berbahagia dan terima kasih atas dukungan dari semua pihak, utamanya dari Perangkat Desa Kusamba yang telah berpartisipasi dalam pembuatan website ini dan semoga bermanfaat. Tentu saja sebagai Perbekel Desa Kusamba, kami mengajak kepada masyarakat Desa Kusamba untuk ikut pula berpartisipasi menyumbangkan ide, kreasi dan informasinya agar dapatnya website ini menarik minat pembaca dan menunjang kami untuk memperkenalkan potensi – potensi yang ada di Desa Kusamba kepada daerah lain.

Akhirnya, kepada semua pihak yang terlibat, kami sampaikan terima kasih yang sedalam – dalamnya, semoga kerjasama kita semua membuahkan hasil yang lebih baik.

Demikian, sambutan yang perlu saya sampaikan. Kami selaku Perbekel Desa Kusamba berterimakasih atas segala perhatiannya dan mohon maaf atas segala kelebihan dan kekurangan.

Om Santih, Santih, Santih Om

PJ. Perbekel Desa Kusamba

I KETUT LAMARTA

Latar belakang

  • Dibaca: 390 Pengunjung

Pantai di Bali, ternyata tidak hanya memiliki pasir berwarna putih. Ada pula pantai yang berpasir hitam yang begitu menawan hati, yakni pantai Kusamba. Panorama di pantai ini juga begitu indah dan masih alami. Masyarakat di sekitar pantai ini umumnya berprofesi sebagai nelayan dan petani garam yang masih memegang teduh tradisi. Di sini anda bisa secara langsung melihat para nelayan yang menangkap ikan di laut dengan cara yang masih tradisional. Meski demikian para nelayan Kusamba terkenal begitu tanguh. Dalam pembuatan garam pun, petani garam Kusamba masih menggunakan cara-cara tradisional sebagaimana yang diajarkan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun.

Nama Kusamba berasal dari nama daerah tempat pantai ini berada, yakni Desa Kusamba, Kecamatan Dawun, Kabupaten Klungkung. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan mengingat nama pantai ini. Dari kota Semarapura, anda bisa menjangkau pantai Kusamba sejauh 7 km perjalanan. Sedangkan jika anda dari bandara Ngurah Rai anda membutuhkan waktu 90 menit perjalanan atau sekitar 29 km jika dari Denpasar.

Di sepanjang pantai, anda dapat menyaksikan perahu cadik nelayan yang berjejer di pinggir pantai. Tak hanya itu, pondok-pondok tempat pembuatan garam juga terlihat di sepanjang pantai. Pohon nyiur yang melambai-lambat tertiup angin memberikan kesan yang mendalam bagi siapa saja yang mengunjungi pantai ini. Sekitar 3 km ke arah timur pantai, anda bisa melihat goa kelelawar dan pura Bali yang terkenal dengan nama Pura Goa Lawa. Maka tak mengherankan jika pantai ini juga sering dijadikan sebagai tempat upacara keagamaan, misalnya sebagai tempat kegiatan nganyut dalam bagian upacara ngaben. Di sini juga terdapat pelabuhan tradisional yang menghubungkan ke Pulau Nusa Penida, Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan sehingga berpotensi untuk menjadi wisata bahari.

Dalam sejarah, desa dan pantai Kusamba sama-sama memberikan arti penting. Dahulu desa Kusamba merupakan ibukota kedua Kerajaan Klungkung ketika dipimpin Ida I Dewa Agung Putra Kusamba. Untuk mendukung pemerintahannya, Ida I Dewa Agung Putra Kusamba pun mendirikan istana di desa ini dengan nama Kusanegara. Selain membangun istana, Kusamba juga ia jadikan sebagai pelabuhan dan benteng kerajaan. Masyarakat di Kusamba kala itu juga mahir dalam membuat keris dan berbagai senjata tajam yang lain. Keahlian ini pun masih diteruskan oleh masyarakat Banjar Pande. Sedangkan masyarakat Kusamba lebih terkenal dengan nelayan dan petani garamnya.

  • Dibaca: 390 Pengunjung